Showing posts with label Kebudayaan Junti. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan Junti. Show all posts

Wednesday, March 13, 2013

Profil Junti

 Junti mempunyai aset wisata alam, junti mempunyai sumberdaya alam. Junti,suatu nama daerah yg sangat tradisi dan kebudayaan yg kental, Junti sendiri di ambil dari nama kayu.
daerah junti, itu terbagi dari empat desa, yaitu junti nyuat, junti kebon, junti weden dan junti kedokan..
     
      Sumberdaya Alam di Junti sangatlah berpotensi,mengingat di junti ada kelautan dan daratan, Junti lautnya tropis, jadi junti kaya dengan ikan, dari ikan rebon sampai ikan kakap ada di laut junti, sementara di daratan tanahnya, sangatlah subur. Para petani di junti menanam sayuran di samping rumah saja bisa tumbuh dengan subur.

       Sedangkan di bidang suber daya manusianya sendiri,masih banyak sekali yg belum di gali dan masih tertunda, contohnya junti mempunyai kerajinan tenun sejak tahun 1930 an, dan tenun tersebut sudah terkenal di negara belanda, karna waktu itu junti termasuk jajahan belanda, jadi hasil tenun orang junti, di bawa oleh orang-orang belanda ke negeri mereka, kerena tenun tersebut sangatlah kuat dan bagus.

       Kemudian kita melihat dari sumber daya lautnya yg kaya dengan ikan, dari ikan rebon sampai ikan kakap, nenek moyang orang-orang junti, dari dulu suka menangkap ikan rebon, dengan peralatan yg sangat sederhana, mereka bisa menangkapnya walaupun ikan rebon tersebut sangatlah kecil,dan tak kasad dipandang oleh mata. 

       Itu bukti sumberdaya manusia masarakat junti, sangatlah tajam dan berpotensial, karenapa..? karena ikan sekecil itu bisa di bikin bumbu masak yg sangat lezat dan sering di gunakan oleh para ibu-ibu masak. pengen tau, apa bumbu masak tersebu..? bumbu masak tersebut namanya terasi. Kemudian kita melangkah ke ikan yg paling besar yg bisa di dapatkan di laut junti, ikan kakap, juga bisa kita dapatkan, lalau para pengolah makanan, ikan kakap tersebut bisa di olah menjadi kerupuk ikan, nah dari pengalaman nenek moyang kita tersebut, mari kita gali lagi yg sudah lama terpendam, dan masih banyak lagi yg belum terkuak.
      
       Pada tahun 1970 sampai 1990, masayarakat junti pernah terkanal sebagai pemburu ular.Tetapi ular tersebut yg hidupnya di sawah, mereka memburu di sawah, banyak yg mereka dapatkan, ada biyawak, ada belut, ada ikan, dan termasuk salah satunya adalah ular. Kita ambil dari segi positifnya, ular kemudian mereka kuliti, kulitnya mereka olah bisa menjadi bahan sebuah tas, dompet, sepatu, ikat pinggang dan masih banyak lgi yg lainya. Di junti weden, ada seseorang yg tekun mengolah dan menjalani usaha kulit ular dari tahun 1970 an, dan mereka sekarang sudah menjadi pengusaha exspor impor kulit ular.

       kumudian kita lihat di junti nyuat, masyarakatnya sebagian ada yg bikin terasi, dan mereka tidak putus menjadi pengusaha terasi. Sumber daya masyarakat juntinyuat, banyak sekali yg mempunyai ide- ide kreatif, contohnya, masyarakat junti nyuat mencoba membuat kecap makan, dan hasilnya sangat memuaskan, kecap tersebut sangatlah enak rasanya.

       Di junti tidaklah sedikit pengusaha-pengusaha yg bermuculan dari sumber daya alam, contohnya saung makan PERDUT, saung makan tersebut terkenal dengan ke lezatan ikan laut bakarnya, dan masih banyak saung makan-saung makan lainya.


       Kita beralih ke pertanian, pertanian di junti sangatlah subur, hasil padi yg baik, dan tidak sedikit menjadi petani yg sukses, kemudian di perkebunan, masyarakat junti pada umumnya, pada suka berkebun, salah satunya berkebun semangka, dan tidak sedikit orang yg menjadi pengusaha tengkulak semangka yg sukses.

       Nah kita sebagai generasi penerus bangasa, janganlah kita perpangku tangan, lihat sekeliling kita, jangan bermalas-malasan, pergunakan kemampuan kalian, jangan hanya memita kepada orang tua, mari kita membangun diri kita, jangan sampai mabuk-mabukan, apalagi sampai mengkonsumsi Narkoba, mari kita bangun daerah kita dengan sumberdaya diri kita. junti bukan milik camat ataupun pejabat-pejabat lainya, junti milik kita, milik kita bersama.


                                                                                                                  By : Yayan Suswiyanto Alfarigh